Selasa, 22 Maret 2011

Teman kecilku, Dinda

Haii sobat blogger …. Nama Ku Reksa, lengkapnya Reksa Putra Wijaya. Aku anak kedua dari 4 bersaudara yang semuanya Laki. Aku sejak kecil paling bontot, paling gede n paling tinggi… dibandingkan saudaraku yang lain.

Saat cerita ini ditulis aku berumur 22 thn. Sepertinya cukup nih perkenalannya…

Cerita ini sebenernya berawal dari keceriaanku di bangku Taman Kanak-kanak. Aku belajar dan bermain di TK selama 2 tahun. Ternyata 2 tahun di TK sangan memberi kenangan yang benar-benar tidak bisa aku lupakan. Senyum dari putri kecil mungil yang duduk tepat disebelahku ketika itu selalu melekat diingatanku. Nama anak itu Dinda.  Dia adalah teman pertamaku di Sekolah kala itu. Hari-hari ku selama 2 tahun tidak pernah lepas dari canda dan tawa Dinda. Tidak jarang kita selalu bergandengan tangan ketika masuk kerbang sekolah. Saat bermain di Ayunan, plosotan dan kubus raksasa Dinda selalu menemaniku.

Masa-masa di Taman kanak-kanak pun berakhir. Pesta perpisahanpun diadakan. Untuk anak seusia aku kala itu pasti belum ada rasa sedih akan berpisah dengan teman-teman. Tapi lain halnya aku,  Aku tidak tahu rasa apa yang muncuk saat itu.  Berpisah dengan teman-teman  adalah hal yang sulit bagiku, apa lagi dengan teman dekatku , Dinda. Karena selama 2 tahun dia lah teman terdekatku.

Pendaftaran siswa baru Untuk Sekolah Dasar telah dibuka. Orang Tua ku mendaftarkan ku di sekolah yang tidak jauh dari rumah. SD N 71 Adalah adalah pilihan mereka untuk ku. Saat masuk gerbang sekolah aku benar-benar tidak bisa melupakan teman lamaku. Biasanya Dinda ada disamping kiriku dan menggandeng tanganku. Sekarang Dinda sudah memasuki gerbang sekolah yang berbeda. Mungkin di sekolah barunya dia akan menemukan teman baru yang lebih baik dariku.

Awal masuk di Sekolah Dasar tidak ada yang spesial. Dari kelas 1 hingga kelas 3 kenangan bersama Dinda ketika di TK sama sekali tidak terlintas di ingatanku. Hingga suatu saat lonceng tanda Istirahat sudah dibunyikan oleh Pak Sirman (ini guru olahragaku), bergegas anak-anak keluar kelas menuju Kantinnya Ibu super Bawel, namanya Ibu Entin. Ternyata hari Itu ibu Entin tidak membuka kantinya. “Mungkin ibu Entin sakit, soalnya kemarin saya lihat dia di puskesmas Pak” jawab Bu Dewi ketika Pak Sirman menanyakan penyebab tutupnya kantin Ibu Entin, itu yang ku dengar. Wah… terpaksa anak-anak jajan di Kantin sekolah sebelah.

Sekolahku menjadi satu komplek dengan sekolah lain, yaitu SD N 74. SD N 71 dan SD N 74 hanya memiliki satu lapangan, jadi ketika upacara kedua sekaloh itu melebur menjadi satu. Kantin di SD 74 pada hari itu dibanjiri anak-anak yang berwajah seperti monster karena kelaparan dan siap menyantap semua makanan yang ada di sana. Untung saat itu aku adalah anak yang cukup tinggi, jadi tidak sulit untuk meraih makanan pilihanku. Setelah mendapatkan santapan siangku aku pun menikmatinya di depan salah satu kelas yang tidak jauh dari kantin. Ini lah kebiasaanku, tidak memperdulikan sekitar saat menikmati makanan. Saat makan, siapa saja yang berbicara di dekatku tidak akan aku perdulikan, tapi tidak untuk suara yang satu ini,  ”permisi, maaf aku mau lewat” suara kecil nan lembut terdengan di telingaku. Pada awalnya aku tak memperdulikan suara itu. “Reksa,   Boleh Aku lewat” Panggilan dengan nada lembut itu membuat aku berhinti menikmati santapan siang, aku ingat Sapaan itu, itu dia, Dinda. Aku cepat-cepat berdiri dan memastikan dari siapa sapaan itu. Ternyata benar yang ada di depanku adalah Dinda, Dinda sahabat Bermainku saat di TK. Selama ini Dinda berSekolah di SD N 74. Mulai saat itu aku selalu merasa memasuki gerbang Taman Kanak-kanak ketika pergi ke Sekolah. Dinda membawakan keceriaan itu kembali.

Terima kasih sahabat kecilku, Dinda. ^_^